hi guys....
kali ini saya mau posting tentang diri saya. I hope you enjoy to read my blog. ok langsung aja ya...
Tusi hardiana dengan nama panggilan Tusi adalah nama yang diberikan orang tua saya. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ketika itu saya dilahirkan disebuah desa yang sangat terpencil di daerah Riau, tepatnya di desa Langkan kecamatan Langgam pada tanggal 26 agustus 1996. Ketika saya kecil perekonomian dikeluarga kami belum begitu baik. Ketika itu ibu saya hanya seorang penjual miso di pasar yang jaraknya tidak begitu jauh dirumah saya. Sampai saya berumur sekitar 5 tahun, saya selalu diajak berjualan kepasar.Setelah itu orang tua saya beralih pekerjaan menjadi seorang penjual ayam di rumah. Orang tua saya bekerja keras mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga saya. Mereka tak pernah memperlihatkan wajah yang lelah ketika dihadapan kami. Meskipun mereka telah bekerja dari pagi hingga malam hari.
Sebagai seorang
anak saya merasa bangga memiliki orangtua seperti mereka. Meskipun orang tua
saya bukanlah orang yang kaya raya, dan juga bukan orang yang berpendidikan
tinggi, namun mereka sangat mengutamakan pendidikan kami. Mereka selalu
berusaha supaya kami tetap bisa sekolah bagaimanapun caranya. Karena yang terpenting bagi mereka bagaimana kami
bisa menjadi orang yang berpendidikan tinggi dan menjadi orang yang sukses di
masa depan. Mereka juga tidak ingin kami merasakan bagaimana susahnya mereka
dulu dalam mencari uang.
Ketika berumur 5
tahun orang tua saya sudah menyekolahkan saya di Taman kanak-Kanak(TK) yang
jaraknya tidak jauh dari rumah. Yang setiap sorenya saya juga belajar mengaji
ditempat tersebut. Ketika saya baru masuk TK, orang tua saya hanya mengantarkan
saya 1 kali kesekolah. Itu ketika hari pertama saya masuk sekolah. Setelah itu
saya tidak pernah diantarkan lagi pergi kesekolah. Saya hanya pergi bersama teman-teman
saya yang lain. Ketika itu saya merasa sedih, saya merasa iri dengan
teman-teman saya yang lain karena mereka selalu didampingi oleh orang tuanya
sampai pulang. Namun seiring berjalannya waktu saya merasa nyaman dengan
kondisi tersebut. Saya juga paham dengan alasan orang tua saya bahwa mereka
harus bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami. Sampai akhirnya saya
lulus dari TK tersebut dan melanjutkan ke Sekolah Dasar(SD).
Pada saat itu
Sekolah Dasar(SD) di desa kami hanya 1. Jarak dari rumah kami sekitar 1 km. Hal
yang sama dilakukan oleh orang tua saya, mereka hanya mengantarkan dan menunggu
saya hingga pulang dihari pertama saja. Dihari berikutnya saya hanya diantarkan
sampai depan pintu gerbang. Namun itu tidak membuat saya sedih lagi, karena
saya sudah mulai terbiasa ketika saya berada di TK kemarin. Selama di SD saya
termasuk anak yang pintar. Dari mulai kelas 1-3 saya selalu menjadi juara 1 di
kelas. Itu berkat kedua orang tua saya dan usaha saya. Orang tua saya membuat
jadwal rutin belajar untuk kami setiap malam. Meskipun hanya sekitar 15 menit.
Itu yang selalu diterapkan oleh orang tua saya kepada kami. Namun ketika saya
berada dikelas IV nilai peringkat saya turun karena tangan saya kiri saya
terkilir, sehingga saya tertinggal pelajaran sekitar selama 1,5 bulan.sejak itu
saya tidak lagi memegang juara 1 dikelas. Saya hanya mendapat peringkat 3
besar. Orang tua saya tidak marah kepada saya, karena yang terpenting adalah
usaha yang dilakukan selama ini telah maksimal. Dukungan dari orang tua saya
tidak menjadikan semangat saya menurun. Sampai dikelas VI ketika pengumuman
kelulusan alhamdulillah saya masih mendapatkan juara 2. Dengan bangga saya
membawa hasil dari usaha saya selama ini dan menunjukkannya kepada kedua orang
tua saya.
Kemudian saya
melanjutkan perjuangan saya ke jenjang Sekolah Menengah Pertama. Ketika itu
saya memiliki tekad untuk bisa melanjutkan ke sebuah Pondok Pesantren. Karena
menurut saya agar saya bisa mendalami ilmu agama dan bisa melatih kemandirian
saya. Namun ternyata ketika itu hampir semua anggota keluarga saya tidak ada
yang mengizinkan saya untuk pergi ke sana dengan alasan saya masih kecil. Dan
saya masih belum bisa mengurus diri saya sendiri. Semua halangan itu sama
sekali tidak membuat semangat saya berkurang. Saya tetap terus berjuang
meyakinkan semua keluarga saya bahwa saya bisa. Akhirnya, mereka melihat
semangat dalam diri saya yang terus
berapi-api maka mereka mengambil keputusan untuk mengizinkan saya
melanjutkan ke Pondok Pesantren Almuslimun yang berada di Seikijang. Saya
sangat bersyukur bisa mendapatkan apa yang saya inginkan selama ini.
Ketika saya di
Pondok saya merasakan sekali bagaimana hidup mandiri tersebut. Sempat saya merasa
sedih sekali ketika semester pertama. Hasil nilai rapor saya hanya mendapat
rangking 8. Saya sangat terkejut sekali ketika itu. Karena selama ini nilai
rapor saya tidak pernah meleset dari 3 besar. Ternyata persaingan diluar tidak
lah mudah. Tidak seperti yang saya fikirkan. Namun setelah itu saya memiliki
tekad dan semangat untuk bisa memperbaiki semuanya. Saya meningkatkan cara
belajar saya. Saya selalu optimis meyakinkan diri saya bahwa saya pasti bisa.
Semua itu saya buktikan ketika semester genap. Betapa terkejutnya wali kelas
saya ketika itu, karena nilai saya drastis meningkat menjadi juara 2 di kelas.
Orang tua saya merasa bangga sekali mendengar kabar dari saya ketika itu.
Bahkan ketika itu saya sendiri juga tidak menyangka dengan hasil yang saya
dapatkan karena saya hanya menargetkan untuk awal 5 besar saja sudah lebih
baik. Namun ternyata apa yang Allah berikan jauh lebih baik dari yang saya
fikirkan. Dari mulai saat itu saya terus bersemangat dalam belajar dan
menjalani hari-hari saya dengan penuh kebersamaan bersama teman-teman yang
berasal dari berbagai daerah.
Terkadang ketika
saya memiliki suatu masalah saya merasa sedih sekali di pondok. Serasa ingin
sekali pindah sekolah. Namun saya teringat bagaimana perjuangan saya untuk bisa
masuk kesekolah ini. Saya tetap bertahan dan meluruskan kembali niat saya bahwa
ini adalah suatu yang terbaik. Di pondok saya benar-benar merasa bersyukur.
Karena meiliki teman-teman yang baik. Dan juga saya lebih bisa menjadi pribadi
yang mandiri dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Sampai akhirnya saya
lulus dan saya bertekad untuk melanjutkan ke Sekolah Menegah Atas di luar.
Karena memang saya hanya ingin dipondok 3 tahun saja.Ternyata lagi-lagi saya
harus berjuang lebih. Karena ketika itu kepala sekolah saya tidak memberikan
saya izin untuk keluar dari pondok. Beliau menyarankan saya agar saya dapat
memikirkan dan merubah lagi niat saya itu. Tapi tekad saya sangat kuat. Saya
tetap mengusahakan supaya saya bisa lanjut kesekolah SMA Negeri yang diluar.
Akhirnya dengan usaha saya kepala sekolah saya memberikan izin kepada saya.
Kemudian saya
melanjutkan ke SMA Negeri Bernas yang berada di pangkalan kerinci. SMA Negeri
Bernas adalah suatu SMA yang bernuansa islami dan juga menjunjung tinggi
kedisplinan. Meskipun Bernas bukan lah sebuah Pondok pesantren tetapi Bernas
sangat menjunjung tinggi agama islam. Semua siswi SMAN Bernas diwajibkan
mengenakan jilbab ketika berada dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah,
larangan bagi siswa/siswi untuk tidak membawa hp ketika sekolah, dan juga
larangan untuk berpacaran. Itulah sebabnya orang tua saya mendaftarkan saya ke
Bernas.
Saya sangat
bangga bisa menjadi salah satu siswa di SMAN Bernas. Di Bernas saya tetap
menerapkan cara belajar saya seperti di pondok. Setiap malam saya selalu
menyempatkan untuk belajar meskipun hanya 15 menit. Suatu aturan yang diberikan
oleh orang tua saya ketika saya di Sekolah Dasar menjadi kebiasaan yang melekat
pada diri saya.di Bernas saya juga mengikuti sebuah organisasi OSIS mulai tahun
2012-2013. Ketika itu saya hanya menjadi anggota. Saya senang bisa bergabung di
OSIS. Karena di OSIS saya di ajarkan bagaimana berorganisasi tersebut. Ternyata
berorganisasi itu sangat menyenangkan. Dengan berorganisasi kita bisa
mendapatkan teman banyak,selain itu juga kita dididik untuk bisa menjadi
seorang pemimpin yang baik. Selain itu juga dapat menambah wawasan dan
pengalaman kita. selain bergabung di OSIS saya juga bergabung dengan organisasi
lain yang ada di sekolah seperti, rohis,pramuka, dan english club, Tap MPR.
Saya terus mengembangkan diri saya untuk bisa menjadi lebih baik di
bidang-bidang yang telah saya ikuti. Sampai berada di kelas XI saya menjabat
lagi menjadi OSIS. Tepatnya menjadi sekretaris OSIS. Kedudukan saya yang
semakin tinggi menjadikan diri saya untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang
baik. Saya juga lebih mendalami bagaimana berorganisasi tersebut.
Ternyata dengan
berorganisasi tidak menjadikan kualitas diri kita menurun di bidang pelajaran.
Sejak saya bergabung dan aktif dalam berbagai organisasi menjadikan peringkat
saya di kelas semakin meningkat, saya bisa menjadi juara 3 besar dikelas.
Karena dengan berorganisasi tersebut saya bisa menjadi lebih pandai dalam memanajemen
waktu saya. Dan saya juga selalu menjaga kesehatan saya. Agar saya tetap bisa
melakukan semua aktivitas saya dengan baik. Sampai akhirnya kami berada di
kelas XII semua kegiatan kami dihentikan. Kami hanya difokuskan pada ujian
nasional. Namun meskipun saya sudah tidak lagi bergabung di organisasi tidak
menjadikan semangat belajar saya menurun. Saya tetap berusaha untuk bisa
menjadi lebih baik di sekolah.Ternyata dengan kondisi seperti ini, terkadang
saya jenuh karena bosan tidak bisa ikut bergabung diorganisasi lagi. Keinginan
hati rasanya masih belum puas dengan berorganisasi yang kemarin itu.”Saya
berniat setelah saya lulus nanti saya ingin melanjutkan pendidikan di jenjang
yang lebih tinggi dan bisa melanjutkan hoby berorganisasi.”. tu keinginan saya
ketika berada di SMA dulu. Dan sekarang impian saya yang pertama sudah
terwujud, saya bersyukur bisa menjadi salah satu mahasiswa di Universitas
Muhammadiyah Malang. Saya akan tetap berusaha menjadi yang terbaik di kampus
baik di bidang akademik maupun non akademik. Agar dapat mewujudkan cita-cita
dan keinginan kedua orangtua saya, yaitu menjadi seorang dosen bahasa
inggris.Amiiiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar