Selasa, 15 September 2015

About me..



hi guys....
kali ini saya mau posting tentang diri saya. I hope you enjoy to read my blog. ok langsung aja ya...
Tusi hardiana dengan nama panggilan Tusi adalah nama yang diberikan orang tua saya. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ketika itu saya dilahirkan disebuah desa yang sangat terpencil di daerah Riau, tepatnya di desa Langkan kecamatan Langgam pada tanggal 26 agustus 1996. Ketika saya kecil perekonomian dikeluarga kami belum begitu baik. Ketika itu ibu saya hanya seorang penjual miso di pasar yang jaraknya tidak begitu jauh dirumah saya. Sampai saya berumur sekitar 5 tahun, saya selalu diajak berjualan kepasar.Setelah itu orang tua saya beralih pekerjaan menjadi seorang penjual ayam di rumah. Orang tua saya bekerja keras mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga saya. Mereka tak pernah memperlihatkan wajah yang lelah ketika dihadapan kami. Meskipun mereka telah bekerja dari pagi hingga malam hari.
Sebagai seorang anak saya merasa bangga memiliki orangtua seperti mereka. Meskipun orang tua saya bukanlah orang yang kaya raya, dan juga bukan orang yang berpendidikan tinggi, namun mereka sangat mengutamakan pendidikan kami. Mereka selalu berusaha supaya kami tetap bisa sekolah bagaimanapun caranya. Karena  yang terpenting bagi mereka bagaimana kami bisa menjadi orang yang berpendidikan tinggi dan menjadi orang yang sukses di masa depan. Mereka juga tidak ingin kami merasakan bagaimana susahnya mereka dulu dalam mencari uang.
Ketika berumur 5 tahun orang tua saya sudah menyekolahkan saya di Taman kanak-Kanak(TK) yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Yang setiap sorenya saya juga belajar mengaji ditempat tersebut. Ketika saya baru masuk TK, orang tua saya hanya mengantarkan saya 1 kali kesekolah. Itu ketika hari pertama saya masuk sekolah. Setelah itu saya tidak pernah diantarkan lagi pergi kesekolah. Saya hanya pergi bersama teman-teman saya yang lain. Ketika itu saya merasa sedih, saya merasa iri dengan teman-teman saya yang lain karena mereka selalu didampingi oleh orang tuanya sampai pulang. Namun seiring berjalannya waktu saya merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Saya juga paham dengan alasan orang tua saya bahwa mereka harus bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami. Sampai akhirnya saya lulus dari TK tersebut dan melanjutkan ke Sekolah Dasar(SD).
Pada saat itu Sekolah Dasar(SD) di desa kami hanya 1. Jarak dari rumah kami sekitar 1 km. Hal yang sama dilakukan oleh orang tua saya, mereka hanya mengantarkan dan menunggu saya hingga pulang dihari pertama saja. Dihari berikutnya saya hanya diantarkan sampai depan pintu gerbang. Namun itu tidak membuat saya sedih lagi, karena saya sudah mulai terbiasa ketika saya berada di TK kemarin. Selama di SD saya termasuk anak yang pintar. Dari mulai kelas 1-3 saya selalu menjadi juara 1 di kelas. Itu berkat kedua orang tua saya dan usaha saya. Orang tua saya membuat jadwal rutin belajar untuk kami setiap malam. Meskipun hanya sekitar 15 menit. Itu yang selalu diterapkan oleh orang tua saya kepada kami. Namun ketika saya berada dikelas IV nilai peringkat saya turun karena tangan saya kiri saya terkilir, sehingga saya tertinggal pelajaran sekitar selama 1,5 bulan.sejak itu saya tidak lagi memegang juara 1 dikelas. Saya hanya mendapat peringkat 3 besar. Orang tua saya tidak marah kepada saya, karena yang terpenting adalah usaha yang dilakukan selama ini telah maksimal. Dukungan dari orang tua saya tidak menjadikan semangat saya menurun. Sampai dikelas VI ketika pengumuman kelulusan alhamdulillah saya masih mendapatkan juara 2. Dengan bangga saya membawa hasil dari usaha saya selama ini dan menunjukkannya kepada kedua orang tua saya.
Kemudian saya melanjutkan perjuangan saya ke jenjang Sekolah Menengah Pertama. Ketika itu saya memiliki tekad untuk bisa melanjutkan ke sebuah Pondok Pesantren. Karena menurut saya agar saya bisa mendalami ilmu agama dan bisa melatih kemandirian saya. Namun ternyata ketika itu hampir semua anggota keluarga saya tidak ada yang mengizinkan saya untuk pergi ke sana dengan alasan saya masih kecil. Dan saya masih belum bisa mengurus diri saya sendiri. Semua halangan itu sama sekali tidak membuat semangat saya berkurang. Saya tetap terus berjuang meyakinkan semua keluarga saya bahwa saya bisa. Akhirnya, mereka melihat semangat dalam diri saya yang terus  berapi-api maka mereka mengambil keputusan untuk mengizinkan saya melanjutkan ke Pondok Pesantren Almuslimun yang berada di Seikijang. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan apa yang saya inginkan selama ini.
Ketika saya di Pondok saya merasakan sekali bagaimana hidup mandiri tersebut. Sempat saya merasa sedih sekali ketika semester pertama. Hasil nilai rapor saya hanya mendapat rangking 8. Saya sangat terkejut sekali ketika itu. Karena selama ini nilai rapor saya tidak pernah meleset dari 3 besar. Ternyata persaingan diluar tidak lah mudah. Tidak seperti yang saya fikirkan. Namun setelah itu saya memiliki tekad dan semangat untuk bisa memperbaiki semuanya. Saya meningkatkan cara belajar saya. Saya selalu optimis meyakinkan diri saya bahwa saya pasti bisa. Semua itu saya buktikan ketika semester genap. Betapa terkejutnya wali kelas saya ketika itu, karena nilai saya drastis meningkat menjadi juara 2 di kelas. Orang tua saya merasa bangga sekali mendengar kabar dari saya ketika itu. Bahkan ketika itu saya sendiri juga tidak menyangka dengan hasil yang saya dapatkan karena saya hanya menargetkan untuk awal 5 besar saja sudah lebih baik. Namun ternyata apa yang Allah berikan jauh lebih baik dari yang saya fikirkan. Dari mulai saat itu saya terus bersemangat dalam belajar dan menjalani hari-hari saya dengan penuh kebersamaan bersama teman-teman yang berasal dari berbagai daerah.
Terkadang ketika saya memiliki suatu masalah saya merasa sedih sekali di pondok. Serasa ingin sekali pindah sekolah. Namun saya teringat bagaimana perjuangan saya untuk bisa masuk kesekolah ini. Saya tetap bertahan dan meluruskan kembali niat saya bahwa ini adalah suatu yang terbaik. Di pondok saya benar-benar merasa bersyukur. Karena meiliki teman-teman yang baik. Dan juga saya lebih bisa menjadi pribadi yang mandiri dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Sampai akhirnya saya lulus dan saya bertekad untuk melanjutkan ke Sekolah Menegah Atas di luar. Karena memang saya hanya ingin dipondok 3 tahun saja.Ternyata lagi-lagi saya harus berjuang lebih. Karena ketika itu kepala sekolah saya tidak memberikan saya izin untuk keluar dari pondok. Beliau menyarankan saya agar saya dapat memikirkan dan merubah lagi niat saya itu. Tapi tekad saya sangat kuat. Saya tetap mengusahakan supaya saya bisa lanjut kesekolah SMA Negeri yang diluar. Akhirnya dengan usaha saya kepala sekolah saya memberikan izin kepada saya.
Kemudian saya melanjutkan ke SMA Negeri Bernas yang berada di pangkalan kerinci. SMA Negeri Bernas adalah suatu SMA yang bernuansa islami dan juga menjunjung tinggi kedisplinan. Meskipun Bernas bukan lah sebuah Pondok pesantren tetapi Bernas sangat menjunjung tinggi agama islam. Semua siswi SMAN Bernas diwajibkan mengenakan jilbab ketika berada dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah, larangan bagi siswa/siswi untuk tidak membawa hp ketika sekolah, dan juga larangan untuk berpacaran. Itulah sebabnya orang tua saya mendaftarkan saya ke Bernas.
Saya sangat bangga bisa menjadi salah satu siswa di SMAN Bernas. Di Bernas saya tetap menerapkan cara belajar saya seperti di pondok. Setiap malam saya selalu menyempatkan untuk belajar meskipun hanya 15 menit. Suatu aturan yang diberikan oleh orang tua saya ketika saya di Sekolah Dasar menjadi kebiasaan yang melekat pada diri saya.di Bernas saya juga mengikuti sebuah organisasi OSIS mulai tahun 2012-2013. Ketika itu saya hanya menjadi anggota. Saya senang bisa bergabung di OSIS. Karena di OSIS saya di ajarkan bagaimana berorganisasi tersebut. Ternyata berorganisasi itu sangat menyenangkan. Dengan berorganisasi kita bisa mendapatkan teman banyak,selain itu juga kita dididik untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Selain itu juga dapat menambah wawasan dan pengalaman kita. selain bergabung di OSIS saya juga bergabung dengan organisasi lain yang ada di sekolah seperti, rohis,pramuka, dan english club, Tap MPR. Saya terus mengembangkan diri saya untuk bisa menjadi lebih baik di bidang-bidang yang telah saya ikuti. Sampai berada di kelas XI saya menjabat lagi menjadi OSIS. Tepatnya menjadi sekretaris OSIS. Kedudukan saya yang semakin tinggi menjadikan diri saya untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Saya juga lebih mendalami bagaimana berorganisasi tersebut.
Ternyata dengan berorganisasi tidak menjadikan kualitas diri kita menurun di bidang pelajaran. Sejak saya bergabung dan aktif dalam berbagai organisasi menjadikan peringkat saya di kelas semakin meningkat, saya bisa menjadi juara 3 besar dikelas. Karena dengan berorganisasi tersebut saya bisa menjadi lebih pandai dalam memanajemen waktu saya. Dan saya juga selalu menjaga kesehatan saya. Agar saya tetap bisa melakukan semua aktivitas saya dengan baik. Sampai akhirnya kami berada di kelas XII semua kegiatan kami dihentikan. Kami hanya difokuskan pada ujian nasional. Namun meskipun saya sudah tidak lagi bergabung di organisasi tidak menjadikan semangat belajar saya menurun. Saya tetap berusaha untuk bisa menjadi lebih baik di sekolah.Ternyata dengan kondisi seperti ini, terkadang saya jenuh karena bosan tidak bisa ikut bergabung diorganisasi lagi. Keinginan hati rasanya masih belum puas dengan berorganisasi yang kemarin itu.”Saya berniat setelah saya lulus nanti saya ingin melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dan bisa melanjutkan hoby berorganisasi.”. tu keinginan saya ketika berada di SMA dulu. Dan sekarang impian saya yang pertama sudah terwujud, saya bersyukur bisa menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang. Saya akan tetap berusaha menjadi yang terbaik di kampus baik di bidang akademik maupun non akademik. Agar dapat mewujudkan cita-cita dan keinginan kedua orangtua saya, yaitu menjadi seorang dosen bahasa inggris.Amiiiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar